Info Sukadana- Di tengah gempuran modernisasi dan individualisme, nilai luhur gotong royong masih hidup dan tumbuh subur di Dusun Sabah, Desa Sukadana, Kecamatan Sukadana, Kabupaten Lampung Timur. Bukti nyatanya terlihat pada Sabtu pagi (27/7/2025), saat puluhan warga dari berbagai usia turun ke lapangan bersama-sama membangun jalan akses menuju area persawahan secara swadaya.
Dengan semangat kebersamaan yang kuat, warga bahu-membahu membawa batu, tanah timbunan, dan peralatan sederhana untuk memperkeras jalan yang selama ini menjadi jalur utama menuju lahan pertanian mereka. Jalan yang dulunya hanya berupa tanah merah dan mudah becek saat hujan kini mulai diperbaiki agar lebih layak dilalui, terutama oleh kendaraan pengangkut hasil panen.
“Sudah lama kami bermimpi punya jalan yang layak ke sawah. Jadi ketika disepakati bersama untuk bergotong royong, semua langsung antusias,” kata Cahyo, Kepala Dusun Sabah, sambil mengawasi jalannya pengerjaan di lokasi.

Baca Juga : Wali Kota Serang Bagikan Bantuan Sekolah untuk Anak Yatim di Kasemen
Dari Musyawarah Warga, Lahir Aksi Nyata
Pembangunan jalan ini bukan proyek instan. Semuanya berawal dari musyawarah warga dusun yang digelar beberapa minggu lalu. Dalam forum itu, para petani mengeluhkan sulitnya membawa hasil panen ke jalan utama, terutama saat musim hujan. Keluhan itu tidak berhenti di meja rapat. Warga langsung menyusun rencana aksi: gotong royong membangun jalan sepanjang 250 meter dengan material seadanya.
Setiap rumah menyumbang tenaga, sebagian juga menyumbang bahan bangunan. Warga yang lebih tua mengatur logistik, para pemuda mengangkut material, sementara ibu-ibu menyiapkan konsumsi. Suasana kebersamaan begitu terasa, menggambarkan semangat kolektif yang masih hidup dalam kehidupan pedesaan.
“Ini murni dari warga untuk warga. Tidak ada bayaran, tidak ada paksaan. Semua bekerja dengan ikhlas karena ini demi kebaikan bersama,” lanjut Cahyo.
Pemerintah Desa Beri Apresiasi dan Janji Dukung Infrastruktur Pertanian
Kegiatan ini turut menarik perhatian Pemerintah Desa Sukadana. Kepala Desa yang diwakili oleh Sekretaris Desa, Bapak Dedek, datang langsung meninjau lokasi. Ia memberikan apresiasi atas kekompakan warga dan berjanji akan membawa usulan bantuan ke forum desa agar pembangunan bisa dilanjutkan secara lebih maksimal.
“Kami sangat bangga dengan inisiatif warga Dusun Sabah. Ini bisa jadi contoh bagi dusun lain di Sukadana. Pemerintah desa akan berupaya mengalokasikan dana atau bantuan material agar proses pembangunan bisa selesai lebih cepat,” ucap Dedek.
Dampak Langsung: Transportasi Lancar, Panen Tidak Lagi Terhambat
Bagi warga Dusun Sabah, jalan pertanian bukan hanya soal kenyamanan, tetapi menyangkut akses ekonomi dan kesejahteraan. Selama ini, kerusakan jalan menyebabkan hasil panen terlambat diangkut, bahkan terkadang rusak karena tertunda dijual. Jalan becek juga menyulitkan alat transportasi masuk ke lahan pertanian.
Aan Mustofa, Ketua RT setempat, menyampaikan rasa syukurnya atas partisipasi luar biasa warga. “Alhamdulillah, semua warga ikut andil. Yang muda mengangkat batu dan semen, yang tua mengatur alur kerja. Kalau begini caranya, pasti cepat selesai,” ujarnya sambil tersenyum.
Sementara itu, Salim Burhan, salah satu petani yang rutin melewati jalan tersebut setiap hari, mengungkapkan rasa bahagianya.
“Dulu kalau habis hujan, saya harus gendong hasil panen sampai ke pinggir jalan besar. Sekarang sudah bisa pakai gerobak. Alhamdulillah,” katanya dengan wajah berbinar.
Dilanjutkan Setiap Akhir Pekan, Hingga Jalan Rampung
Pembangunan jalan ini akan dilakukan secara bertahap setiap akhir pekan, agar tidak mengganggu aktivitas utama warga di hari kerja. Targetnya, jalan bisa selesai dalam beberapa pekan ke depan, tergantung pada ketersediaan material dan cuaca.
Meski tanpa dukungan alat berat dan anggaran besar, warga yakin bahwa semangat gotong royong bisa menutupi semua keterbatasan itu.
Gotong Royong: Warisan Leluhur yang Tetap Relevan
Apa yang dilakukan oleh warga Dusun Sabah adalah cerminan nyata bahwa nilai-nilai tradisional seperti gotong royong dan musyawarah tetap relevan bahkan sangat dibutuhkan dalam kehidupan masyarakat saat ini. Di tengah keterbatasan anggaran pemerintah, inisiatif masyarakat menjadi kekuatan utama pembangunan.
Dengan jalan yang lebih baik, bukan hanya akses ke sawah yang membaik, tetapi juga harapan baru terbuka bagi petani untuk meningkatkan produktivitas dan taraf hidup mereka. Jalan itu bukan sekadar infrastruktur fisik, melainkan juga simbol kebersamaan, harapan, dan masa depan desa yang lebih cerah.















