“Yesus” di Balik Jeruji: Tukang Kayu Imigran Venezuela Ditahan di AS, Komunitas Gereja Berjuang untuk Membebaskannya
Info Sukadana- Seorang imigran asal Venezuela bernama Jesus Teran, yang juga dikenal sebagai “Yesus” oleh komunitasnya, kini menjadi pusat perhatian publik setelah ditahan oleh Badan Imigrasi dan Bea Cukai Amerika Serikat (ICE) sejak 8 Juli 2025. Penangkapannya mengejutkan banyak pihak, terutama komunitas gereja lokal yang selama ini mengenalnya sebagai sosok pekerja keras, religius, dan tanpa catatan kriminal.
Jesus Teran (35), seorang insinyur sipil yang kini bekerja sebagai tukang kayu magang di kota kecil Imperial, Pennsylvania, bukanlah sosok asing bagi masyarakat setempat. Bersama istri dan dua putrinya, ia membangun kehidupan baru sejak melarikan diri dari krisis politik dan ekonomi yang melanda Venezuela. Sejak kedatangannya di Amerika pada tahun 2021, Jesus aktif dalam kegiatan sosial, keagamaan, dan pekerjaan komunitas.

Baca Juga : Polsek Sukadana Kawal Ketat Penyaluran Beras Bapanas ke 812 Warga Margaharja
Penahanan Tanpa Peringatan, Komunitas Terkejut
Kasus ini bermula ketika Jesus Teran menjalani pemeriksaan rutin di kantor ICE Pittsburgh—sesuatu yang telah ia lakukan secara disiplin selama lebih dari empat tahun. Namun, tanpa penjelasan rinci, ia langsung ditahan dan kemudian dipindahkan ke Pusat Pemrosesan Moshannon Valley di Pennsylvania, yang dikelola oleh kontraktor swasta GEO Group. Lokasi tersebut yang berjarak sekitar tiga jam dari rumahnya, membuat keluarga kesulitan untuk melakukan kunjungan.
Yang membuat kasus ini lebih menyayat hati adalah kenyataan bahwa Yesus tidak memiliki riwayat kriminal sedikit pun. Ia juga dikenal aktif dalam komunitas Gereja Our Lady of the Miraculous Medal di Meadow Lands dan merupakan anggota yang aktif dalam kegiatan sosial, termasuk mengelola taman komunitas bersama keluarganya.
“Yesus” yang Nyata, Bukan Hanya Nama
Nama “Jesus” (Yesus) yang disandang Teran secara kebetulan menambah dimensi emosional dalam kasus ini. Para pemuka agama, khususnya dari Paroki St Oscar Romero, bersatu dalam aksi solidaritas. Pendeta Jay Donahue, vikaris senior paroki, mengungkapkan kekecewaannya atas tindakan ICE.
“Dia mengikuti semua protokol, hadir setiap kali diminta, bekerja keras, dan aktif di gereja. Tiba-tiba dia ditahan begitu saja. Ini benar-benar memilukan,” ungkap Donahue.
Tak hanya gereja, lembaga nirlaba seperti Wellness Collective turut menyuarakan dukungannya. Direktur perumahan mereka, Chris McAneny, menyebut Jesus sebagai kontributor penting dalam proyek taman komunitas, mulai dari memperbaiki mesin tanah hingga menyiram tanaman dua kali seminggu. “Dia bukan hanya membantu, dia menjadi bagian penting dari kehidupan komunitas ini,” katanya.
Kehidupan Sederhana dan Penuh Arti
Sebelum magang sebagai tukang kayu pada musim dingin 2024, Jesus bekerja di berbagai tempat: sebagai karyawan swalayan, pengantar DoorDash, hingga teknisi serabutan. Ia terus berupaya membangun kehidupan yang layak di negeri baru, meski tanpa status hukum penuh. Mantan gurunya, Barbara Hopkins, menyebutnya sebagai murid teladan yang penuh dedikasi.
Lebih dari 20 surat dukungan dari berbagai kalangan—termasuk pemimpin agama, buruh, dan aktivis—telah ditujukan ke pihak yang berwenang sebagai bentuk solidaritas. Kampanye penggalangan dana GoFundMe juga diluncurkan untuk membantu kebutuhan keluarganya selama proses hukum berlangsung.
Politik, Kemanusiaan, dan Ketidakpastian Hukum Imigrasi
Penahanan Yesus menjadi simbol bagi banyak orang atas bagaimana kebijakan imigrasi Amerika sering bersinggungan dengan nilai-nilai kemanusiaan. Mantan anggota DPR dari Pennsylvania, Conor Lamb, turut menyoroti kasus ironi ini melalui akun media sosialnya:
“Di distrik lama saya, seorang tukang kayu amerika – secara harfiah bernama Yesus – ditahan. Tidak ada catatan kriminal, punya keluarga, aktif di gereja, bekerja keras. Ini gila.”
Seorang pengacara telah mengajukan permohonan pembebasan terhadap Jesus Teran. Namun hingga kini, akses untuk bertemu langsung masih tertutup, dan komunikasi keluarga hanya bisa dilakukan melalui telepon berbiaya mahal.
Harapan untuk Keadilan
Kasus ini bukan sekadar tentang satu orang, melainkan potret nyata ketegangan antara hukum dan nilai-nilai kemanusiaan di tengah sistem imigrasi AS yang kompleks. Komunitasnya terus menyuarakan satu harapan: agar Yesus Teran, “Yesus Tukang Kayu” yang telah tenggelam dalam kehidupan masyarakatnya, dapat segera dibebaskan dan kembali berkumpul bersama keluarga tercinta.















