Breaking News
Kumpulan informasi aktual seputar peristiwa penting yang terjadi di seluruh wilayah Indonesia, meliputi isu politik, kebijakan pemerintah, bencana, dan dinamika sosial masyarakat.
BRIMO BRIMO BRIMO BRIMO

Rutan Sukadana Bangun Mental Sehat Warga Binaan Lewat Program Rehabilitasi “Big Baby”

banner 800x150

Ratusan Warga Binaan Rutan Sukadana Dapat Pembinaan Mental: Lawan Gangguan Emosional “Big Baby”, Bangun Pribadi Mandiri

Info Sukadana- Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIB Sukadana kembali menunjukkan komitmen kuatnya dalam membina warga binaan agar siap kembali ke masyarakat dengan kepribadian yang lebih sehat dan matang. Melalui kolaborasi dengan Yayasan Cahaya Rehabilitasi Cahaya Azzura, ratusan Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) mengikuti kegiatan rehabilitasi pemasyarakatan bertema “Penanganan Gangguan Mental Big Baby”, Kamis (16/10), di aula utama Rutan Sukadana.

Kegiatan ini dipimpin langsung oleh Kasubsi Pelayanan Tahanan, Revil Trinando, bersama tenaga kesehatan Rutan. Sementara materi rehabilitasi dibawakan oleh Ketua Yayasan Cahaya Rehabilitasi Cahaya Azzura, Benny Mangku Negara, yang hadir bersama tim profesional dari yayasan tersebut.

Klik Disini

Sebanyak 100 warga binaan mengikuti sesi ini dengan penuh antusias. Dalam kegiatan tersebut, para peserta diajak memahami konsep Big Baby Syndrome — kondisi di mana seseorang cenderung bergantung secara emosional dan sulit mengendalikan perasaan seperti anak kecil. Melalui pendekatan interaktif, peserta belajar mengenali akar penyebab perilaku tersebut, memahami cara mengendalikan emosi, serta menumbuhkan rasa tanggung jawab dan kemandirian dalam menghadapi tantangan hidup.

Ratusan Warga Binaan Rutan Sukadana Peserta Rehabilitasi Pemasyarakatan Dibekali Penanganan Gangguan Mental Big Baby – Betik Lampung

Baca Juga : 147 Peserta Antusias Ikuti Pemeriksaan TBC di Sukadana, Petugas Turun Langsung ke Lapangan

Kasubsi Pelayanan Tahanan, Revil Trinando, menuturkan bahwa pembinaan psikologis seperti ini merupakan bagian penting dari transformasi pembinaan di Rutan Sukadana.

“Kami tidak ingin pembinaan hanya fokus pada kedisiplinan atau aturan semata. Kami ingin membantu warga binaan memahami dirinya, memperbaiki pola pikir, dan memperkuat mental mereka agar siap menghadapi kehidupan setelah bebas nanti,” ujarnya.

Menurut Revil, kegiatan ini menjadi wujud nyata dari pendekatan holistik dalam pemasyarakatan — yang tidak hanya menegakkan ketertiban, tetapi juga memulihkan mental dan sosial para penghuni rutan.

Sementara itu, Ketua Yayasan Cahaya Rehabilitasi Cahaya Azzura, Benny Mangku Negara, mengungkapkan pentingnya pemahaman terhadap gangguan emosional seperti Big Baby Syndrome dalam proses rehabilitasi.

Banyak perilaku negatif lahir dari ketidakmampuan seseorang mengendalikan emosi.

Dengan terapi dan pembimbingan yang tepat, warga binaan bisa belajar menghadapi tekanan hidup tanpa kembali pada perilaku lama,” jelasnya.

Benny juga mengapresiasi dukungan penuh dari jajaran Rutan Sukadana yang telah membuka ruang bagi lembaga rehabilitasi profesional untuk terlibat aktif dalam proses pembinaan. Menurutnya, kerja sama lintas lembaga seperti ini menjadi contoh sinergi positif antara pemerintah dan masyarakat dalam menciptakan pemasyarakatan yang lebih manusiawi.

Di kesempatan yang sama, Kepala Rutan Kelas IIB Sukadana, Farizal Antony, menegaskan bahwa pembinaan mental dan spiritual merupakan pilar penting dalam sistem pemasyarakatan modern.

“Kami ingin Rutan Sukadana menjadi rumah pembinaan yang benar-benar membangun manusia, bukan sekadar tempat menjalani hukuman. Melalui kegiatan seperti ini, kami membantu mereka menata kembali hidup, menemukan makna, dan berani melangkah ke masa depan yang lebih baik,” ujar Farizal.

Kegiatan rehabilitasi kemudian ditutup dengan sesi refleksi dan doa bersama. Suasana haru terasa ketika para peserta menyampaikan harapan dan tekad untuk memperbaiki diri. Banyak dari mereka mengaku mendapatkan pemahaman baru tentang pentingnya pengendalian emosi dan semangat untuk berubah.

Dengan kegiatan ini, Rutan Sukadana tidak hanya menjadi tempat pembinaan, tetapi juga ruang penyembuhan — tempat di mana warga binaan diberi kesempatan kedua untuk tumbuh, belajar, dan kembali menemukan jati dirinya sebagai manusia yang utuh.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *