Polsek Bayan Bersama Pecalang Kawal Puncak Upacara Pujawali di Pura Penataran Agung Rinjani
Info Sukadana- Suasana khidmat dan penuh kebersamaan menyelimuti Pura Penataran Agung Rinjani, Desa Sukadana, Kecamatan Bayan, Lombok Utara, pada Minggu (7/9). Sejak pagi, ratusan umat Hindu sedharma memadati pura untuk mengikuti puncak Upacara Pujawali atau Piodalan, sebuah tradisi suci yang rutin digelar sebagai ungkapan rasa syukur sekaligus wujud bhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa.
Umat Hindu Antusias Hadiri Puncak Pujawali
Sekitar 200 umat Hindu dari berbagai desa di Lombok Utara terlihat hadir sejak prosesi awal hingga puncak upacara. Tidak hanya umat, para tokoh agama dan tokoh masyarakat juga ikut memeriahkan kegiatan keagamaan ini. Hadir pula Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Lombok Utara Ida Bagus Sunu, para pedanda, pengurus krama pura, hingga perwakilan desa adat se-Kabupaten Lombok Utara.

Baca Juga : Polsek Sukadana Perkuat Sinergi dengan Tokoh Masyarakat Jaga Kamtibmas
Bagi umat Hindu, Pujawali di Pura Penataran Agung Rinjani bukan sekadar ritual rutin, tetapi juga momen untuk memperkuat sraddha (iman) dan bhakti (pengabdian) kepada Sang Pencipta. Prosesi yang dilaksanakan secara turun-temurun ini juga menjadi ajang mempererat hubungan sosial antarumat dan masyarakat sekitar.
Sinergi Pengamanan: Polsek Bayan, TNI, Satpol PP, dan Pecalang
Demi memastikan seluruh rangkaian kegiatan berlangsung aman dan lancar, Polsek Bayan menurunkan puluhan personel. Mereka diperkuat unsur TNI dari Koramil Bayan, Satpol PP Kabupaten Lombok Utara, serta pecalang desa adat setempat yang selalu menjadi garda terdepan pengamanan upacara keagamaan.
Kapolsek Bayan Iptu I Wayan Cipta Naya menjelaskan bahwa pengamanan dilakukan secara menyeluruh, mulai dari pengaturan arus lalu lintas di sekitar area pura, penjagaan titik-titik rawan, hingga pendampingan umat yang mengikuti prosesi. “Ini bentuk dukungan Polri dalam menjaga keamanan setiap kegiatan keagamaan masyarakat. Semoga pelaksanaan Pujawali di Pura Penataran Agung Rinjani berjalan lancar, damai, dan membawa berkah bagi seluruh umat,” ujarnya.
Kerja sama erat antarinstansi ini terlihat nyata selama prosesi berlangsung. Pecalang mengatur keluar-masuk umat dan kendaraan, sementara aparat kepolisian dan TNI menjaga ketertiban di sekitar pura. Dengan pengamanan terpadu tersebut, acara berjalan khidmat tanpa gangguan.
Apresiasi dan Harapan untuk Kerukunan
Ketua PHDI Lombok Utara Ida Bagus Sunu menyampaikan rasa syukur dan terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung kelancaran Pujawali. “Kami berterima kasih kepada seluruh pihak, terutama aparat keamanan yang telah ikut menjaga kelancaran acara ini. Semoga harmoni dan kerukunan selalu terjaga di Lombok Utara,” tuturnya.
Ia menegaskan, Pujawali bukan hanya peristiwa ritual, tetapi juga momentum penting memperkuat nilai-nilai toleransi, persaudaraan, dan kebersamaan antarumat beragama. Dengan suasana yang kondusif, umat dapat melaksanakan ibadah dengan tenang dan penuh khusyuk.
Pujawali, Warisan Tradisi dan Identitas Budaya
Upacara Pujawali di Pura Penataran Agung Rinjani telah menjadi salah satu ikon tradisi keagamaan di Lombok Utara. Selain bernilai spiritual, upacara ini juga memperkuat identitas budaya masyarakat Hindu di Bayan dan sekitarnya. Prosesi yang diiringi doa-doa suci ini selalu menarik perhatian masyarakat, bahkan wisatawan yang ingin melihat secara langsung kekayaan tradisi Nusantara.
Kehadiran aparat keamanan bersama pecalang bukan hanya menjamin kelancaran acara, tetapi juga mencerminkan semangat gotong royong antarinstansi dalam menjaga harmoni. Dengan kerja sama seperti ini, masyarakat Hindu dapat terus menjalankan ritualnya dengan penuh ketenangan dan rasa aman.















